hit counters
Counter Hits

Connect with Facebook
 
 
 

Inspiration Detail

   •PERANG SIPADANG VII
Posted 10 November 2009, by Webmaster
"Zul, you kerja kayak robot. Istirahatlah", kata pak Muhktar suatu hari. Dalam hati saya lalu berkata, "Yes ,". Itulah yang saya inginkan, someone must recognize what I am doing . Setelah tiga bulan saya tinggal dan tiga kawan aceh saya harus keluar serperti apa yang pernah dikatakan pak Mukhtar. Menurut informasi beberapa teman, beliau kini bekerja di Lybia. Ini bukanlah hal mudah, saya bukan orang aceh dan tak pula bisa berbahasa aceh dan bersaing pula dengan orang aceh di daerah aceh untuk jenis pekerjaan yang mampu dilakukan semua orang.

Strategy pertama passed. Tinggal saya sendiri janitor, jadwal kerja berubah hanya siang saja . Tidak ada lagi kerja shift malam, siang dan sore. Next, saya harus keluar dari janitor ini. Caranya hanya satu, “Tell them you can do more than janitor”, itu yang ada dalam benak saya. BANG kedua – “Komputer”. Ya, inilah kendaraan saya untuk mencapai tujuan. Tapi bagaimana caranya? Waktu kerja janitor dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore, istirahat jam 12 sampai jam satu siang. Setiap jam dua belas Bos besar JTJ, namanya orang Amerika, makan siang ke kamp dan baru kembali jam satu kurang 10 menit dan selalu begitu. Saya selalu masuk kekamar beliau membersihkan meja, menyapu, dsb. Di sudut ruangan beliau ada satu komputer IBM yang selalu on. Otak saya mulai berputar inilah jalan keluar pertama yang kelihatan oleh saya. Kalau saya penakut takdir saya hanya seorang janitor. Saya harus menemukan takdir saya yang lebih baik dan ini perlu keberanian
dan sedikit kenekatan dengan persiapan yang terukur.

Saya kirim surat pada adik saya di Jakarta mohon dikirimi buku belajar komputer. Entah dia mengerti atau tidak, dua bulan berikutnya saya dapat kiriman 3 buku belajar komputer, Belajar bahasa Basic, Lotus 123, dan Formtool. Setelah membaca mungkin seratus kali mengulang dan melihat komputer yang terpajang di kamar sang bos. Tibalah hari nekat saya, hidup ini bukan penantian tapi sebaliknya, kamu harus mengambil setiap kesempatan yang ada. 45 menit setiap hari dengan buku disebelah kiri dan tangan bergetar mulailah menekan keyboard, Lotus 123 kelihatan dalam menu persis seperti apa yang dikatakan oleh pengarang buku yang saya baca. Formtool juga begitu.

Satu minggu berjalan lancar. Now what, tak ada artinya latihan tanpa kerja nyata. Pada saat menyapu dan membersihkan control room dimana para bapak bapak operator bertugas saya melihat sebuah kesempatan emas, ada banyak form berbentuk tabel tabel yang dibuat dengan tangan, form form itu itu diperlukan untuk mencatat setiap perubahan temperatur, pressure dan indikasi indikasi lainnya yang dimonitor dari panel panel DCS maupun diluar di area kilang LPG. Dengan mendekati beberapa operator saya mulai melakukan pendekatan dan mangatakan saya bisa buat dengan komputer itu formulir formulir dengan cepat dan rapi. Ada dua hal yang saya lakukan satu membuat form form itu dan mencantumkan nama si operator dibagian bawahnya.

Dari form beralih ke grafik dengan Lotus 123, nama yang nyuruh buat selalu saya ketik disetiap lembaran ini semua saya lakukan jam 12 siang. Para operator dan leadernya mulai dekat dengan saya yang akhirnya berdampak baik saya tidak lagi pulang jam empat sore. Bila bos besar pulang, saya masuk ke kamar beliau menyelesaikan order-order operator dan leadernya. implikasi-nya, mereka tidak merecoki saya memakai komputer Toke besar sampai larut malam. Satu lagi kebaikan mereka, memberikan tumpangan pulang jam 12 malam besama rombongan shift mereka. Rupanya Pak Mukhtar diam diam melihat sepak terjang saya. Syukur Alhamdulillah beliau juga diam tidak melapor ke kolega supervisornya yang bule semua.

Sepandai-pandainya tupai melompat, suatu hari jatuh juga. Hari naas itu tiba seperti biasa begitu bos pergi makan siang saya lalu masuk mengerjakan order operator membuat grafik, rupanya hari itu bos tidak punya selera makan dia kembali lebih cepat dari biasanya. Karena pintu masuk ke ruang kerjanya di belakang saya, saya tidak tahu entah sudah berapa lama beliau berdiri dibelakang saya. Waktu saya berdiri melihat hasil printout saya terperangah dan berdiri kaku tak mampu bergerak sedikitpun jantung berdebar tak keruan, beliau diam saja lalu mengambil topi dan keluar melihat kilang. Saya tambah bingung.

Hari itu saya pulang dan bercerita sama istri saya. Habislah kita mungkin kita akan kembali ke Jakarta lagi. Kami berdua hanya terdiam sambil memandang satu sama lain. Besok paginya saya masuk kerja seperti biasa ambil sapu, nyapu, ngepel , buat minum dan semua rutin kerjaan saya lakukan. Jam 10, saya dipanggil si Bos besar. Jantung saya seakan mau copot. Inilah akhirnya perjalanan tukang sapu dalam benak saya. Tapi Tuhan berkata lain “Zul, can you make this?”, sambil menunjukan bentuk sebuah sketsa form dengan berbagai kolom dan header, itu lah kata pertama yang saya dengar seakan tidak percaya. Thanks God. 12 th kemudian beliau menggedor kamar hotel saya di Houston Texas sambil berkata " God Damned. You made it, Man".

Setahun kemuadian GS salah seorang supervisor bule, memberi saya komputer merek Tandy. Inilah komputer pertama saya. Tidak ada harddisk. Dengan adanya komputer dirumah percepatan kemampuan aplikasi komputer saya meningkat drastis.

Setelah dua tahun jadi pesuruh dengan kemampuan aplikasi komputer yang lumayan saya dipindahkan dari Clerk ke Cluster II, dan bos saya sekarang adalah Pak MA, orang Aceh. Sekarang beliau bertugas di Houston, Jasa beliau pada saya juga tak terbayar dengan memberikan keleluasaan berkreasi dengan komputer. Nama saya mulai dikenal oleh para sekretaris-sekretaris jadi tempat bertanya, bagai mana bikin ini, bagaimana bikin itu. Semakin banyak orang bertanya semakin terasah kemampuan saya. Ada yang minta tolong di buatkan, saya buat dirumah. Semuanya berdasarkan ke ihklasan. Ada yang minta tolong komputernya diperbaiki, saya tolong tanpa seperser duit pun. Ada yang minta tolong ditemani ke Medan untuk beli komputer komisi yang diberikan toko komputer dimedan tidak saya ambil malah saya suruh mengurangi harga kumputer tsb, saya bantu dengan senang hati. Kawan kawan pada menertawai saya dikasi duit kok tidak mau, hidup sendiri saja susah. Mereka barangkali tidak
atau belum tahu bahwa saya tidak suka istilah sampingan saya punya rencana besar. Kalau gaji saya sepuluh ribu, saya harus hidup dengan sepuluh ribu.
| Back |