hit counters
Counter Hits

Connect with Facebook
 
 
 

Inspiration Detail

   •PERANG SIPADANG VI
Posted 10 November 2009, by Webmaster
Capek di Singapura tahun 1983 aku melangkah ke utara “ Kualalumpur”. Dengan berjualan kue Pau ringgitpun masuk ke kantongku. Hanya sementara saya menikmati manisnya uang malaysia, semua uang yang terkumpul saya kirimkan untuk Nenek saya di maninjau. Belakangan saya tahu dari cerita paman saya beliau sangat senang sekali dan langsung shopping ke Bukit Tinggi. Ini adalah yang pertama dan terakhir saya berbagi nikmat dengan almarhum nenek saya. Setelah itu saya masuk penjara pudu sembilan bulan karena berkelahi memecahkan kepala orang masih untung dia tidak mati, kalau mati berakhirlah hidup ini di tiang gantungan.

Dibalik setiap peristiwa ada pelajaran. Seakan berulang, kembali lagi disini saya tidak mendengar suara Takdir bahwa 16 tahun kemudian saya akan kembali lagi kemari sebagai turis dan melihat Penjara Pudu ini menjadi Museum. Disini di kamar no 42, saya pertama kali dalam hidup melihat para pencandu heroin tak bisa tidur bermalam malam yang belakangan saya tahu itu namanya sakau. Disini pula bertemu dengan kawan sewaktu SMP Kijang Untung dan M.Nuh. Ah, reuni kok di penjara pudu. M.Nuh masuk karena ilegal. Kawan Untung ditransfer dari klantan setelah menjalani hukuman perompakan 12 tahun dan menunggu dipulangkan ke Indonesia. Setelah sidang berkali kali kawan yang mengadu tidak pernah datang ke pengadilan akhirnya dengan berat hati pak hakim membebaskan saya. Karena saya memegang RedCard nya Malaysia , saya tidak dipulangkan ke Indonesia.

Akhirnya saya memutuskan kembali ke Singapura dan mencoba lagi peruntungan disini, kerja selama enam bulan dipabrik Beer Tiger dengan modal IC malaysia. Saat itu mudah mendapatkan work permit enam bulanan di Singapura. "Ibu sakit keras " begitu yang tertulis dari telegram yang kuterima yang membuatku berfikir ulang untuk terus berjuang di luar hanya ada satu kata "Pulang". ---

2 may 1986, ada telegram dari Maninjau, Nenek sakit. Naik ALS saya pulang ke maninjau berdua dengan Ibu. Nenek tergeletak badannya tidak berfungsi sebelah, dia hanya bisa tidur. Ibu hanya dua hari dikampung dan kembali ke jakarta. Tinggalah saya dengan Nenek yang sedang terbujur tak bisa apa apa. Satu bulan saya mengurus beliau dari memandikan, menyuapin, dan membersihkan kotoran, serta mencuci pakaian kotor beliau. Kalau waktu saya kecil beliau yang menjaga saya nampaknya sekarang pay back time nek, kata saya. Tersungging senyum pahit dibibirnya. Karena penyakit nenek tidak ada perubahan dan saya tidak mungkin lama lama di kampung ini. Istri saya di Jakarta sedang hamil tua akhirnya saya dan ibu di jakarta memutuskan membawa nenek ke Jakarta.

Diiringi derai air mata saudara saudara di kampung, kugendong nenek menaiki Bis sampai di bukit tinggi. Ketika membeli tiket Bis AC di Bukit Tinggi tak ada satupun Bis yang mau, alasan mereka kalau terjadi apa dijalan bagaimana. Yang non AC pun sama sama menolak. Akhirnya saya buat perjanjian kalau nenek saya meninggal ditengah jalan tinggalkan kami berdua, dan kalian bisa jalan terus. Nenek tak bisa duduk dan berbicara lagi, yang bisa dilakukannya hanya mengangguk dan menggeleng. Dua hari dua malam dengan bus Non AC dan pandangan mata tak bersahabat dari para penumpang sampai juga kami di Pulo Gadung. Inilah nasib, mau dibawa ke rumah sakit uang tidak ada. Hampir setiap malam saya berdoa dipinggir ranjang nenek di rumah kami di Jakarta. Doa ku sederhana saja, " Ya Allah, kami tak punya uang untuk membawa nenek ke Rumah Sakit. Yang ada, cuma hati dan kasih sayang. Bila Engkau berkenan , sembuhkanlah Nenekku dan bila kesembuhan bukan lagi pilihan, kami
rela melepas beliau". Jumat pagi, setelah 30 hari nenek di jakarta, beliau menghembuskan nafas terakhir. Sebagai rasa terima kasih untuk nenek yang menjagaku dengan kasih sayang dari kecil, kuantar beliau hingga melepas tali kafan di liang lahat perkuburan di Jakarta Timur. Selamat jalan Nek.

Sempurnalah kemiskinan. Ibu adalah seorang PNS rendahan, kami tak pernah punya rumah sendiri, hidup selalu berpindah pindah, dari kontrakan ke kontrakan, dari tumpangan ke tumpangan. Lebih parah lagi, sejak aku masih di sekolah dasar, Ibu sudah menderita penyakit Psoriasis. Sekujur tubuh memerah dan mengelupas. Dengan kondisi seperti itu beliau selalu masuk kantor dengan rajin. Bolak kalik ke rumah sakit adalah hal rutin. Suatu ketika beliau down dan dirawat RSCM, hampir satu bulan masuk awal puasa sehingga kami berhari raya di rumah sakit. Giliran mau keluar, uang tidak ada yang mau dijual pun tak ada, ya satu satunya cara adalah kabur dari rumah sakit. Pagi pagi setelah mandi dan bersih bersih ibu berpakaian agak rapi walaupun wajah masih kelihatan pucat pada saat orang orang besuk mulai ramai disitulah kami pelan pelan menyusun strategi untuk keluar dan kabur dengan taksi yang sudah saya siapkan. Maafkan kami Dr Cipto. Sampai hari ini kami memang
tidak membayar biaya rumah sakit tersebut, karena aku merasa pajak yang kubayar setiap bulan jauh diatas biaya rumah sakit tersebut
-----
Ya Allah tunjukkanlah saya jalan untuk mendapatkan pekerjaan, tukang sapu pun jadi selama itu halal. Anakku akan tumbuh dewasa, Aku ingin membesarkan mereka dengan rezeki yang Engkau ridhoi. Itulah doa yang selalu kupanjatkan setelah bekeluarga dan punya anak satu masih juga tidak jelas kemana arah jalan hidup. “ BANG”, 20 October 1988. jam 00:00 adalah hari pertama saya kerja, shift malam sebagai Janitor atau tukang sapu saat ini lebih populer dengan sebutan OB (office Boy), kami berempat kerja bergantian, Aziz yang masih muda yang belakangan hari jadi supir, Pak Usman dan Pak Ibrahim tetap jadi janitor sampai dipensiunkan. Kami bekerja dibawah bendera PT Koalisi. Cluster III NGL Plant adalah nama tempat saya mulai bekerja di tanah air tercinta ini. Bekerja bergiliran selama delapan jam sehari. Gaji pertama hanya puluhan ribu rupiah semua kusedekahkan ke mesdjid sebagai rasa syukurku, dan tak pula ada bayangan di benakku bahwa suatu hari nanti
akan bergaji puluhan juta rupiah.

“Kalian berempat disini hanya sementara paling lama tiga bulan bila sudah selesai masa sibuk start-up paling hanya satu orang yang dibutuhkan” Itulah kata Bapak MI salah seorang supervisor yang bertugas beliau adalah satu satunya orang Indonesia yang jadi supervisor di kilang LPG tersebut yang lainnya adalah orang asing.

Saya hanya butuh satu minggu saja untuk meyakinkan bapak bapak disini bahwa saya akan terus bekerja disini pak. Delapan jam waktu kerja tidak satu menitpun saya sia siakan, mengepel lantai sampai berkilat, membuat minuman, menyediakan piring dan gelas bila tiba waktu makan, dan membersihkan toilet. Dan saya pastikan tidak ada satu titik noda pun di lantai dan di toilet, walau para operator operator dan konsultan konsultan sibuk keluar masuk control room karena berbagai masalah operasi pabrik gas LPG yang baru mulai tersebut.
| Back |