hit counters
Counter Hits

Connect with Facebook
 
 
 

Inspiration Detail

   •PERANG SIPADANG V
Posted 10 November 2009, by Webmaster
Saya nekat memasukan lamaran dengan modal raport kelas tiga SMA. Sebulan kemudian ada dua puluh orang termasuk saya dipanggil untuk ikut test semua soal saya jawab. Dua hari setalah menerima Ijazah saya dapat panggilan untuk datang ke Kantor BNI. Saya hubungi semua kawan kawan alumni SMA yang ikut test dengan saya kecuali yang ada beberapa yang bukan orang Bagan. Sambil bertanya apa mereka dapat surat dari BNI. Semua kawan menjawab dapat tapi surat maaf anda belum berhasil. Karena masih anak SMA bloon saya tidak menyadari itu adalah wawancara dengan Pimpinan BNI hari itu adalah hari YES or NO. Karena yang datang untuk wawancara hanya ada dua orang saya dan seorang wanita yang tak pernah saya lihat di Bagan siapi api sebelumnya. Dengan menenteng Ijazah SMA yang masih baru dan wangi saya dipanggil masuk.

Setelah mereka meperkenalkan diri salah satu dari tiga orang tersebut bertanya “ Kok kamu berani memasukan lamaran padahal belum tentu kamu lulus”. Saya jawab dengan super yakin “Kalau saya tidak yakin saya lulus saya tidak melamar pak, ini dia Ijazah saya sambil menyodorkan ke hadapan beliau”. Dari atas kebawah berjejer angka delapan satu angka lima berwarna merah untuk bahasa arab angka enam olah raga. Saya jelaskan lima itu karena saya pindahan dari tiga SMA, di SMA pertama dan kedua kami belajar bahasa jerman di Bagan kelas tiga bahasa Arab habislah saya pak. Kalau olah raga dapat enam karena saya tidak suka senam pagi Indonesia itu dan tak pernah ikut, kok rasanya seperti waktu penjajahan jepang padahal kita sudah lama merdeka.

Akhir dari wanwancara saya disuruh menunggu dirumah. Kemudian saya katakan “Pak waktu saya hanya satu minggu, kalau lebih dari itu, saya anggap saya gagal”. Setelah satu minggu tak ada kabar berita saya berkata sama sama kawan kawan saya yang sedang bergembira akan melanjutkan kuliah dan bercerita tentang universitas, akademi dan lajutan berikutnya. Dengan suara keras dan lantang saya berkata " I will beat this damned world my friend", tidak ada yang tahu saya sebenarnya terpukul telak oleh kemiskinan karena tak punay biaya untuk melanjutkan kependidikan lebih tinggi.

30 tahun kemudian saya kembali ke bagan bersama anak anak dan melihat Bagan telah berubah , dari kota ikan jadi kota burung layang layang. Dari kecamatan jadi kabupaten. Dulu tak ada mobil, sekarang jalan-jalan sudah macet.

Lelaki itu harus berbuat sesuai dengan apa yang diucapkannya. Awal tahun 1978 setelah tak ada berita dari BNI dan waktu yang saya berikan terlewati walau belakangan hari saya menyesali kebodohan saya, yang mau kerja itu saya bukan pejabat BNI tapi nasi sudah jadi bubur..

Dengan menumpang kapal kayu pengangkut belacan dan ikan asin yang baunya minta ampun selama dua hari dua malam akhirnya saya memijakan kaki saya di pelabuhan tua sunda kelapa. Tanpa sepeserpun uang disaku yang ada hanya sebuah alamat di dalam kepala "Tanah Abang" aku pun sudah lupa kapan pertama kali mendengar nama Tanah abang ini, mungkin di film barangkali. Tak ada kawan dan saudara. Jalan kaki dari Sunda Kelapa ke Tanah Abang sambil bertanya pada setiap orang. Setiap langkah semakin mantap karena ternyata semua orang tahu Tanah Abang, dan rupanya ia benar benar ada. Yes, I am here, Tanah Abang. Saking kelelahan tertidurlah badan di Mesjid lantai atas tanah abang. Bangun-bangun adzan Magrib dan sepatu kesayangan pun lenyap, saat mencari cari sepatu yang hilang inilah bertemu dengan beberapa orang anak muda minang Buyung dan Syaf yang berjualan "Air Haus" istilah mereka waktu itu. Mereka pun mengajak sama sama mereka. Berjalanlah ke daerah bongkaran
daerah kumuh, suara musik melengking yang terasa aneh ditelinga, belakangan saya tahu itu musik daerah jawa barat. Kamar kontrakan sempit yang sudah dihuni oleh 4 orang, Buyung, Asbar, Arifin, dan Syaf ditambah saya satu bertambahlah sumpeknya. Hanya ada satu lampu. Asbar kerja sama Rifin. Mereka Jualan kaos 3 sepuluh ribu, Buyung join sama si Syaf jualan air haus dan berencana mau buka sendiri.

Arifin berasal dari Tiku, buyung asbar dan Syaf berasal dari pariaman mereka berempat semua kelahiran Medan. Arifin sekarang sudah sukses dengan bisnis konveksinya. Asbar kembali ke Medan dan berjualan dari pajak ke pajak dalam kamus hidupku juga masuk kategory berhasil karena mampu mengirim anaknya ke univerwsitas. Aku pernah mengajaknya menikmati hotel Bintang lima Medan saat aku ada dapat training di Medan tahun 1998. setiap aku ke medan aku selalu mampir kerumahnya dan tak pernah tidak. Buyung tetap di Jakarta entah beribu kali pula bertukar profesi sampai terdampar berjualan di Glodok. Ia Juga dalam kamusku masuk kategory sukses karena sudah mampu memiliki rumah sendiri di Kalideres dan tiga Anaknya di pesantren ternama di Jawa Barat.
Pada saat kami masih berputar di Tanah Abang kami selalu berkumpul bersama setiap jam 7:30 menjelaang makan malam. Kami sama sama makan diwarung milik orang bukit Tinggi di pinggiran Project tanah Abaang. Beliau memiliki anak gadis cantik yang selalu membantu. Arifin adalah yang adalah yang paling berduit diantara kami tapi dia tidak bisa menulis dan membaca tapi dia pula yang paling tekun dan serius tak banyak bicara bahkan cendrung pemalu. Dia tertarik dengan anak penjual nasi tersebut yang berinitial D. Mulailah ku olah sebuah surat perkenalan seolah olah datang dari si D untuk rifin dan dibacakan oleh Asbar. Kemudian si rifin memintaku membalas, balas membalas surat ini sebenarnya aku seorang yang menulis. Lebih dari tiga bulan kami makan gratis dibayarin rifin, dia pun yang terkenal sampilik mulai berbaik hati pada kami bertiga, sampai kami semua berpisah. Aneh bin ajaib mungkin kebesaran Tuhan lima tahun kemudian Si rifin resmi menyunting so D.
sampai hari ini mereka adalah pasangan yang setia. Allah Akbar.

Suatu hari aku bersama si Saf mendorong gerobak haus . Kami mendorong gerobak ke Senayan karena katanya ada bola. Sampai di Senayan tak ada apa apa, karena itu malam minggu didoronglah gerobak menuju Taman Ria monas menyusuri Thamrin yang penuh dengan lampu dan gedung gedung bertingkat.

Sambil mendorong gerobak, saya tak henti hentinya melihat gedung gedung mewah itu yang dulu hanya di film-film sekarang jadi nyata di depan mata. Tak pernah terbayang oleh saya bahwa 20 tahun kemudian saya akan sering menginap disana. Hanya dua bulan saya ikut si Saf. Akhirnya karena terlalu sering jualan di Taman ria monas,s aya berkenalan dengan arek arek dan keluarlah saya dari grup minang. Jadilah saya anak monas yang akrab dengan Taman Ria dan Casino Cendrawasih yang terletak di dalam jakarta fair yang menghirup setiap rupiah yang saya punya. Malakin supir taksi setelah naikin penumpang adalah kerjaan rutin saya kalau untuk makan tinggal comot saja dari pada para pedagang kakilima yang bertebaran disekitar monas, terkadang saya minta duit mereka. Kok tega-teganya saya ,orang cari makan secara halal dikerjaain. Akhir dari semua ini harus saya bayar dengan kepala menerima 12 jaitan dan bukan itu saja saya pun tergeletak terserang typus hampir berlayar
jauh. Sebelum berakhir th 78 saya keluar dari Jakarta.

Sepanjang tahun 1979 saya masih mengikuti alur kemanakah gerangan garis tangan akan membawa saya, Bali, Lombok, Sumbawa, Bima saya rambah dengan berbagai jenis pekerjaan saya lakukan untuk bertahan hidup. Mulai dari kuli bangunan, jualan bubur kacang hijau dengan gerobak berkeliling, jualan keliling antar pulau pulau kecil di sekitar NTB sampai pula ke labuhan bajo akhirnya kembali ke bali kerja di Swiss Restoran Bali dan berlanjut jadi guide. Tak puas sampai disini entah apa yang ada dikepalaku waktu itu tahun 1980 sepasang kaki ini membawaku ke Muaradua Sumatera Selatan, sebuah profesi baru sebagai Guru di SMP Cokroaminito pagi hari dan SMA Muhammadiah sore hari. 27 tahun kemudian, tahun 2007, saya kembali ke Muaradua ada tiga mantan murid saya jadi Camat, satu jadi kepala transmigrasi dan satu lagi bendahara pemda. Mereka pada datang menemui saya sambil bernostalgia akan masa masa lalu mereka.
Berhenti disini sejenak memikirkan tentang kehidupan yang lalu. Semua ingatan akan masa lalu tak berarti apa apa, hanya sebagai perbincangan beberapa menit saja. Apa yang pernah saya pikir penting, atau yang benar-benar saya kejar, atau yang saya coba hindari, kini semuanya adalah bagian dari masa lalu. Apapun yang mengingatkan saya pada pikiran-pikiran dan perasaan ini, itu hanyalah kenangan.

Aku masih mencari, 1981 kembali ke Jakarta, Monas - Taman Ria dan sekitarnya, kembali tempat uang mudah dicari. Tujuannya hanya satu cari uang bikin passport dan terbanga juah jauh. Dengan menumpang Tampomas yang masih gagah kala itu awal tahun 1982, aku menuju Tanjung Pinang dan terus naik ferry ke negeri tuan Rafles. Cita cita baru ku ingin keliling dunia dengan cara jadi pelaut. Jadi pelaut tak bertahan lama berakhir dengan 20 hari masuk Sel di Muscat Oman.

Tuhan punya rencana lain yang aku tak pernah tahu. Inilah suara takdir "Bila tiba saatnya, kau akan keliling dunia lewat udara dengan Singapore Airline dan duduk di muka. Kursimu 1A First Class. Kata orang, the best Airline in the world". yang dulu tak pernah sampai ke telingaku. Aku juga tidak pernah tahu 16 tahun kemudian aku melihat kembali jalan jalan yang dulu pernah kutapaki dari berbagai kamar Hotel 5 Bintang di Singapura ini. Terbayang kembali saat kehausan masuk toilet bayar 10 sen untuk melepas dahaga kalau orang ke toilet buang air, awak minum air.
| Back |