hit counters
Counter Hits

Connect with Facebook
 
 
 

Inspiration Detail

   •PERANG SIPADANG IV
Posted 10 November 2009, by Webmaster
Menurut adikku ayah sudah jatuh sakit saat saya pulang kampung saya tak diberitahu mungkin beliau masih menyimpan kemarahan akan keamburadulan saya celana yang menyapu jalan sepatu hak tinggiku membuat gigi beliau selalu sakit. Setelah sakitnya semakin parah ia minta pulang kekampungnya di Nunang Payakumbuh. Agar ada yang menemaninya ikutlah adik dengannya pulang kampung ke Payakumbuh. Sementara Ibu dipindahkan oleh kantornya ke Bagansiapi siapi dari Kijang.

Setelah ayah meninggal kami berdua berangkat ke Bagansiapi api dan tinggalah kami bertiga bersama ibu. Pertengahan tahun 1976 saya masuk di SMA Negeri Bagan Siapi-api. Disini saya sangat menikmati lari pagi sambil ngambilin buah buahan seperti apel, jeruk ,d.l.l, di atas meja sembahyang orang orang cina yang diletakkan di depan rumah mereka. Di depan rumah kontrakan kami di bagan ini tinggal seorang Jaksa. Beliau sangat hobi main catur. Beranda didepan rumahnya selalu ramai dengan anak anak muda yang diajaknya main catur hampir semua dibuatnya tumbang. Setelah beberapa kali mendekat akhirnya saya dapat kesempatan bermain dengan beliau. Sebenarnya beliau tidak pintar pintar amat saya tak butuh waktu lama untuk menghajarnya tapi tidak saya lakukan bahkan sering saya beritahu “awas pak” kuda itu atau mentri itu bakal melayang” atau saya bilang jangan buru buru pak lihat dulu itu terbuka dan sebagainya, cara saya ini membuat kami kalau main selalu
lama dan hampir semua permainan saya biarkan dia yang menang. Gara gara main catur begini perkawanan kami semakin akrab. Saya sering dibawa keluar makan dan dia bilang kalau mau nonton di bioskop dia bisa masukan saya gratis kapan saja saya mau. Jadilah setiap malam saya minta memonya untuk nonton gratis dan kemudian saya jual.

Suatu hari pak jaksa mengajak saya kerumah seorang toke cina, entah apa yang dia bicarakan didalam manalah saya tahu. Karena lama menunggu di ruang tamu sang Toke cina saya lihat ada gitar merek Kapok, lalu saya ambil dan mainkan pelan pelan. Pada saat pak jaksa keluar dia lihat saya main gitar, lalu dia bilang “kau bisa main gitar” dia lalu melirik ke cina pemilik rumah sambil berkata “Untuk dia saja gitar itu ya?” . saya hanya melihat sang pemilik menganggukan kepala dan jadilah gitar itu hak milik saya yang akhirnya saya jual juga karena uang lebih menarik dari barang saat itu. Hebat sekali pak Jaksa kita dalam hati saya.

Persahabatan saya dengan pak jaksa ini bukanlah persahabatan saling menguntungkan karena saya yang paling banyak diuntungkan. Dapat pakai motor pak jaksa dengan gratis dll. Sampai suatu hari dia bilang “Kalau kau tamat SMA masuk hukum saja di UNRI nanti saya bantu saya kenal dengan banyak dosen dosen disana katanya, Dekannya pun saya kenal Saya tambah binggung saja dengan pak jaksa ini dia kerja di Bagansiapi api tapi dia bisa memasukan saya di UNRI. Pertemanan ini berantakan karena saya menolak mengumpulkan teman teman SMA saya untuk ikut kampanye pemilu dibawah bendera partai pemerintah waktu itu dan membagi bagikan uang dan kaus gratis agar barisan kampanye jadi ramai katanya. Dia tahu semua anak SMA yang tukang nogkrong dipasar adalah konco konco saya.

Sebenarnya saya tak ada urusan dengan partai tersebut dan uang lebih menarik dari idealisme, tapi dendam saya sama sang peresiden belum mau hilang karena menolak memberi saya beasiswa. Ini membuat saya tidak mau terlibat dan dilibatkan dalam pemilu kalau sekarang lebih populer dengan golput. Sepanjang hidup saya baru satu kali saya nyoblos pemilu th 2004 aneh bin ajaib saya memilih partai yang dulu saya benci alasan saya sederhana sang pendiri sudah tumbang sementara partai yang lain tak jelas juntrungannya.

Kenakalan saya waktu di SMA Bangan sudah kelewatan gara gara menikmati anggur vigor setiap jam istirahat, hampir saya dikeluarkan dari SMA Negeri Bagan siapi api. Sebenarnya ada banyak alasan kepala sekolah dan guru guru untuk mendepak saya keluar. Entah apa yang membuat mereka selalu saja memberikan warning warning dan warning lagi…

Hari ini saya bersyukur pak guru Nurdin yang orang minang itu dengan sabar memanggil saya dan menasehati saya berulang ulang “ zul, suatu hari nanti kau akan berterima kasih sama saya”. “Orang minang apalagi pindahan dari SMA Maninjau yang terkenal dengan alumninya yang melenggang masuk keperguruan tinggi negeri di Indonesia ini tak ada yang jadi bandit zul, semua pasti pintar pintar dan berkelakuan baik barangkali kau ini pengecualian”

Yup beliau benar hari ini saya berterima kasih yang sebesar besarnya buat walikelas saya Pak Guru Nurdin walaupun saya tidak mampu melenggang ke Universitas seperti ucapan beliau.

Main kartu selama liburan bulan puasa sudah biasa, kalau menang puasa terus, kalau kalah langsung buka. Trik menyelipkan beberapa katru disela kelingking adalah makanan saya kalau saya yang mengocok kartu selesailah uang dimeja saya makan. Lulus SMA juara umum pula mungkin para guru kami tidak mengkorelasikan kenakalan saya dengan nilai ujian. Padahal sehari sebelum ujian begadang sampai pagi bersama abang abang tukang becak. Mengikuti ujian hari pertama dengan mata terkantuk-kantuk. Tiga bulan sebelum ujian saya mendengar ada penerimaan pegawai baru di BNI 46 cabang Bagan Siapi Api.
| Back |