hit counters
Counter Hits

Connect with Facebook
 
 
 

Inspiration Detail

   •PERANG SIPADANG III
Posted 10 November 2009, by Webmaster
Setelah naik ke kelas dua IPS, walaupun sebenarnya saya tak bego bego amat di pelajaran aljabar, kimia dan fisika tapi karena blank di kwartal pertama banyak merah di kwartal ke dua dan biru semua dikwartal berikutnya. Sekolah rupanya mau cari selamat dengan menaikan saya ke II IPS walau tidak satupun angka merah dirapor saya. Saya pindah ke SMA Negeri Maninjau setelah di legalisasi oleh SMA Filial Lubuk Basung.

Masa masa indah di maninjau saya jalani dengan nikmatnya rokok SOOR, yang dibeli dari upah panggul menurunkan barang dari pedati bang ujang. Waktu pulang kampung tahun 2006 setelah dua puluh tahun tak pernah mudik sejak tahun 1986 membawa nenek ke Jakarta, saya jumpai sang pemilik pedati dan bertanya “Mana pedatinya bang?”. “Kini ndak laku padati lai, lah banyak oto”, katanya dengan senyum yang hambar. Dimaninjau ini pula saya jadi petani bertanam kacang tanah, setiap malam harus dijaga sampai bertunas menghidari gangguan babi. Pada saat saya menulis ini terbayang oleh saya saat memanen hasil panen bersama Nenek, kami harus berlomba dengan Kera - kera yang juga berpesta. Kami mencabut didepan kera kera itu mencabut dibelakang kami sedih, tertawa, marah bersatu jadi kenangan indah.

Maninjau pada masa masa itu terkenal dengan cengkeh. Kalau pada musim cengkeh kantong saya tebal dengan rupiah apakah dari hasil mencuri cengkeh saudara atau dari upah memanjat cengkeh yang tak pernah jujur selalu saja ada yang digelapkan. Dunsanak saya itu tahu apa yang saya lakukan tapi beliau pura pura tidak tahu. Kata kata seperti “inyo kan urang rantau ma lo kapandai inyo mamanjek”. Dalam hati saya jangan under estimate bang. Kenangan kampung bagiku jauh berbeda dengan kawan kawan minang lain. Di maninjau aku tinggal di pasar Manainjau. Tempat segala macam tingkah polah pareman. Kalau aku ke Payakumbuh ketempat Bako juga dipasar dekat terminal bus Nunang namanya. Segala macam tinggkah polah orang pasar yang hidup di kepalaku.

Kehidupan manis di maninjau ini berakhir dengan sebuah berita yang disampaikan oleh pak guru SMA Maninjau ada telpon dari Rumah sakit umum Bukit Tinggi. “Ayah saya sakit keras “. Dari cara pak guru menyampaikan berita saya bisa menebak Ayah sudah tiada. Setelah mengemasi buku buku pelajaran saya pulang dan memberitahu nenek, saya mau RSU Bukit Tinggi. Ayah sudah meninggal. Entah dari mana nenek meminjam uang lalu dia memberi saya ongkos. Berangkatlah saya ke bukit tinggi dan langgsung kerumah sakit umum disana saya temui adik saya sedang termenung. Dia saat itu baru kelas satu SMP kami hanya dua bersaudara, laki laki pula dia juga berjuang sendiri mencari garis tangannya dan tidak kalah kerasnya dari saya karena Ibu hanya mampu menyekolahkan kami berdua sampai SLTA itupun sudah kami syukuri sepanjang hayat kami berdua. Kini adiku satu satunya itu berhasil pula berkarya di sebuah Bank terbesar di Indonesia dan bergelar master pula. Kini Ibu
mondar mandir, kalau bosan dirumah adikku beliau kerumahku. Kadang kadang beliau mengomel coba kalau punya anak perempuan Aku pasti betah dengannya. Kami berdua selalu berkata Tuhan itu lebih tahu apa yang terbaik buat Ibu.
| Back |