hit counters
Counter Hits

Connect with Facebook
 
 
 

Inspiration Detail

   •Melihat dengan “Dua Mata” (From Hasnul Suhaimi Blog)
Posted 04 March 2010, by Ronal
Sebagai orang dengan latar belakang pendidikan teknik dan bekerja di bidang teknik selama 9 tahun, saya menjadi saksi terjadinya pergeseran yang fundamental dalam dunia bisnis telekomunikasi di akhir 1980-an. Saat dominasi keteknikan perlahan-lahan digantikan dengan isu-isu tentang pelanggan, marketing, sales, pendapatan, dan hal-hal “soft” lainnya. Soal-soal teknis yang tadinya menjadi primadona nyaris tak mendapat perhatian lagi. Saya yang berkecimpung di bidang teknis dan sangat bangga dengan itu protes (dalam hati), “Wah nggak beres ini, kita yang capek-capek kerja kok yang dibicarakan marketing, sales keuangan dan fungsi supporting lainnya. Tanpa jaringan yang handal memangnya mereka bisa jualan?”

Sampai pada suatu hari, saya bertemu dengan seorang konsultan/pengajar terkenal, Pak Heru Prasetyo, yang mengajar Finance for Non-Finance Manager. Karena beliau mengajarnya enak sekali saya mulai tertarik dengan isu-isu di luar teknik, hal-hal yang sebelumnya tak terbayangkan akan saya sentuh, misalnya tentang revenue, cost, profit, balance sheet dll.. Dan, di kemudian hari saya baru menyadari bahwa di samping fungsi teknik, fungsi keuangan, marketing, sales dll memang sangat penting untuk kesinambungan perusahaan.

Patahlah believe yang saya bawa dan mungkin dianut oleh sebagian besar lulusan SMA bahwa ”IPA jauh lebih penting dari IPS”, ”ilmu eksakta lebih hebat dari ilmu sosial”. Saya mulai menyadari bahwa dua-suanya sangat dibutuhkan. Malah kalau bisa digabung di dunia kerja akan jauh lebih baik. Untuk awal, boleh saja mulai dengan bidang teknik. Tapi, ternyata, tidak boleh berhenti sampai di situ. Harus belajar juga marketing, sales bahkan kalau perlu belajar finance akan lebih bagus. Kesadaran itu menginspirasi saya untuk mengambil studi MBA. Padahal, sebelumnya yang terpikir di benak saya, kalau nanti berkesempatan kuliah S-2, saya akan mengambil studi teknik juga. Berkat Pak Heru, saya akhirnya mengambil program MBA. Dua tahun kuliah di Hawai, kembali ke Tanah Air saya mulai masuk ke area Carier Relations atau International Marketing sebelum akhirnya pada 1995 saya mulai berkarier di Marketing beneran, mengahadapi kompetisi pertama di dunia telekomunikasi Internasional di Indonesia: 001 Lawan 008. Atas saran pimpinan saya sempat mengundang guru marketing kelas dunia pak Hermawan Kartajaya untuk memperdalam ilmu tim Divisi Marketing dan dilanjutkan dengan seluruh jajaran pimpinan. Semacam Marketing for Non Marketing Manager.

Menguasai bidang teknis dan marketing ternyata sangat membantu karir saya selanjutnya. Tidak cukup menguasai satu bidang keilmuan dan pekerjaan saja. Kalau bisa tiga akan lebih baik lagi. Saat berkecimpung di marketing ternyata ilmu teknik akan melengkapi. Saya bisa melihat product dan service yang dijual dengan ”dua mata” mata supply dan mata demand. Kalau teman-teman dari bagian teknik menjelaskan produk baru, atau adanya di perbaikan produk, saya lebih mudah menangkap dan membayangkan apa yang terjadi di kedua sisi. Feeling saya langsung bekerja dan mengaitkannya produk dengan Customer Experience, hingga bisa menjadi feedback yang sangat berarti bagi tim teknis untuk meningkatkan performansi produk yang akan dijual.
| Back |