hit counters
Counter Hits

Connect with Facebook
 
 
 

Inspiration Detail

   •PERANG SIPADANG II
Posted 10 November 2009, by Webmaster
Di kijang kami tinggal di bekas gudang cina daerah dekat pelabuhan. Daerah tersebut terkenal dengan nama Barek Motor. Di sebelah rumah ada Kantor Jaksa dan pak jaksa bujangan juga tinggal dan berkantor disana. Saya sering jadi kenek Pak Jaksa tersebut dan selalu dikasi duit. Pak Jaksa inilah jadi penyelamat saya karena Ibu takpernah memberi uang jajan . Dan bukan itu saja Pak jaksa juga punya kekuasaan hebat dia bisa ngambil mercon dan mainan ditoko cina tanpa bayar dan langsung dikasikan saya. Kalau lebaran tiba kantor yang merangkap sebagai rumah pak jaksa penuh kue dan minuman pemberian para warga tionghua donatur setia beliau.

Ibu seorang karyawan rendahan uang gaji beliau walau sudah berhemat masih tak cukup dimakan untuk satu bulan. Saya sudah masuk SMP Negeri Kijang, saya coba mengirim surat kepada presiden Suharto untuk minta bantuan bea siswa, tak berapa lama saya mendapat balasan dengan stempel Kabinet Pembangunan yang berisi tentang penjelasan bea siswa dan tata cara mendapatkannya. Kepala sekolah justru memanggil saya dan marah besar karena saya begitu lancang. Ditambah lagi dengan perkataan sekolah malas mau minta bea siswa pula itu. Sebenarnya saat kelas satu SMP saya sudah goyah, melihat kondisi ibu yang diserang penyakit Psoriasis. Gajinya yang sedikit yang tidak cukup dimakan satu bulan harus membeli obat pula. Pulang sekolah saya selalu memetik daun ubi di kebun orang untuk ditumis dan memetik cabe rawit di kebun sekolah dulu. Karena inilah saya mencoba menulis surat pada presiden. Penyakit psoriasis yang menyerang ibu ini adalah penyakit yang berhubungan
dengan gen sampai saat ini belum ada obatnya. Obatnya mahal dan tidak pula bisa menyebuhkan hanya mengurangi saja, bila obat habis kembali bertambah parah sekujur tubuh terkelupas. Penyakit ini juga menyerang saya sejak tahun 2000 tapi bedanya dengan ibu yang PNS saya bekerja di Perusahaan minyak terbesar di dunia. Medical treatmentnya cukup baik.

Setelah lulus SMP tahun 1973 saya melanjutkan ke SMA Tanjung Pinang yang berjarak 30 km dari Kijang, kami anak kelas satu masuk siang. dari kijang ke pinang kami naik bis persis seperti metro mini (mereka memanggilnya uspen) disediakan oleh PT Aneka Tambang Bouksit buat anak anak karyawan mereka. Saya adalah penumpang gelap. Kalau uspen penuh muka anak anak kuli tambang yang keren keren tersebut mulai kelihatan tak bersahabat karena saya penumpang haram ataul ilegal. Karena tak pernah bayar uang sekolah masuk sekolah pun mulai tak jelas. Pada saat tiba waktu membawa rapor pulang saya kebingungan, gimana caranya uang sekolah belum dibayar gimana bisa dapat rapor. Dalam kepanikan inilah saya mencuri blanko rapor kosong disekolah dan mengisi sendiri nilai nilainya, memalsukan tanda tangan guru dan mencuri stempel sekolah. Kwartal pertama, kedua dan ketiga selamat pada saat kenaikan karena buru buru cap stempel terbalik capnya diraport saya.

Inilah awal bencana ibu langsung membawa raport menghadap kepala sekolah, dan ibu pula yang bersikeras memaksa pak kepala sekolah untuk melaporkanku kekantor polisi. “Rule must be put in place” yang salah harus dapat hukuman kalau tidak anak saya tidak pernah belajar. Hasilnya saya masuk lokap 21 hari di sel tahanan polisi Tanjung Pinang. Untung lah kasus ini tak berlanjut ke pengadilan polisi setangah hati meneruskan perkara ke pangadilan gara gara penyalahgunaan stempel sekolah. Sebenarnya selama ditahan di kantor polisi saya tidak digabung dengan tahanan dewasa lainnya. Saya menempati kamar sebelahnya yang sebenarnya diperuntukan untuk wanita, walau pintu sel tidak pernah di kunci saya tak bisa keluar karena harus melewati pos jaga didepan.

Padahal kalau stempel saya tidak terbalik dan ibu dapat saya kibuli rencana jangka panjang saya adalah pulang kampung tinggal bersama nenek dan akan bersekolah di dimaninjau. Surat pindah sudah saya siapkan lengkap dengan tujuannya SMA Maninjau

1975, karena tak bisa lagi sekolah si SMA Tanjung pinang tak ada pilihan lagi selain Pulang kampung ketempat nenek. Karena sudah bulan april satu kwartal sudah berlalu saya tak bisa diterima di SMA Maninjau karena sudah berjalan satu kwartal saya baru mau mulai lagi sekolah. Terpaksalah pergi ke lubuk basung diantar Nenek saya . Mungkin karena kasihan Kepala sekolah SMA Filial Lubuk Basung langsung menerima saya beliau menulis remarks dirapor saya “Tidak ana Nilai karena sakit sakitan”. Sungguh bijaksana bapak itu kalau beliau maju jadi caleg pasti akan saya pilih dia. Di Lubuk Basung ini saya habiskan tahun 1975. Bila tiba hari sabtu saya jalan kaki ke Maninjau untuk pulang ke tempat nenek mengambil bekal untuk satu minggu kedepan, perjalan ini biasanya saya tempuh selama lima jam. Air yang mengalir disepanjang jalan dari antokan ke bawah terasa nikmat sekali mengalir ditengorokan Saya.

Di Lubuk basung ini untuk cari uang tambahan saya bekerja sebagai kuli panggul menurunkan karung karung berisi jenkol yang berdatangan dari perdesaan sekitar dari truk dan gerobak. Ini biasaya saya lakukan sesudah magrib. Belajar, yang satu ini hanya disekolah saja. Begitu keluar dari sekolah otak saya hanya berfikir “bagaimana mengisi perut”.
| Back |