hit counters
Counter Hits

Connect with Facebook
 
 
 

Inspiration Detail

   •Makin Tinggi Pendidikan Makin Gampang Menganggur
Posted 08 January 2010, by Ronal
Makin Tinggi Pendidikan Makin Gampang Menganggur

Sabtu, 9 Februari 2008

Jakarta, Kompas - Fenomena ironis yang muncul di dunia pendidikan adalah
semakin tinggi pendidikan seseorang, probabilitas atau kemungkinan dia
menjadi penganggur pun semakin tinggi. Fenomena ini perlu mendapat perhatian
serius dari dunia pendidikan dan industri.

Hal itu dikatakan pengamat pendidikan Darmaningtyas, Jumat (8/2). Menurut
dia, hal itu melahirkan paradoks: dunia usaha mengeluhkan sulit mendapat
tenaga kerja, di sisi lain lulusan sekolah dan perguruan tinggi kesulitan
mendapat pekerjaan.

”Terlebih ada kecenderungan, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar
keinginan mendapat pekerjaan yang aman. Mereka tak berani ambil pekerjaan
berisiko seperti wiraswasta, trainer, atau penulis. Mereka pilih
menganggur,” ujarnya.

Terbatasnya daya serap tenaga kerja sektor formal di satu pihak, dan di
pihak lain terjadi percepatan pertambahan tenaga terdidik, juga menyebabkan
posisi tawar sarjana di Indonesia amat rendah. Posisi para pencari kerja
lulusan perguruan tinggi berada pada posisi dilematis; diterima dengan gaji
rendah atau menolak pekerjaan dengan risiko menganggur. Mereka yang
realistis memilih bekerja dengan gaji rendah daripada idealis namun
menganggur selamanya.

Darmaningtyas melakukan studi kasus pada iklan lowongan kerja di harian
Kompas Minggu, 6 Januari 2008. Ada 405 lowongan pekerjaan, 4,19 persen
mensyaratkan indeks prestasi minimum, lainnya menekankan pada kemampuan
kerja individu dan tim, kemampuan berbahasa asing, terutama Inggris,
kemampuan mengoperasikan program komputer, kemampuan berkomunikasi, dan
pengalaman kerja.

”Itu justru tak diperoleh secara formal di bangku sekolah, sebaliknya
didapat dari inisiatif dan kreativitas individu. Individu kreatif cenderung
memiliki tingkat keberhasilan tinggi,” ujarnya.

Lembaga pendidikan cenderung mengajarkan hafalan, kurang melihat konteks.
Hal-hal seperti membangun jaringan, kreativitas, dan komunikasi kurang
didapat dari sekolah.

Pengamat pendidikan Prof Winarno Surachmad menambahkan, jurang antara
lulusan perguruan tinggi dan dunia kerja adalah isu lama. Dia melihat hal
itu lebih disebabkan tak adanya link and match dunia pendidikan dan usaha.
Pemberi pekerjaan (industri) pun tak terlalu hirau pada peningkatan sumber
daya manusia bangsa secara umum. (INE)
| Back |