hit counters
Counter Hits

Connect with Facebook
 
 
 

Inspiration Detail

   •MAKNA SUKSES BAGI BOB SADINO
Posted 08 January 2010, by Ronal
MAKNA SUKSES BAGI BOB SADINO


Sukses bagi seorang entrepreneur sejati seperti Bob Sadino, ternyata
begitu sederhana. "Kalau saya mengharapkan

besok saya bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses,"
ungkap bos Kemchicks Group ini. Ia

bilang, banyak orang tidak pernah memahami arti sepiring nasi. Makan
dianggap sebagai kewajaran jika orang tidak

punya masalah untuk mendapatkan makanan. Tapi bagi orang yang pernah
lapar, pernah tidak makan, sepiring nasi

mempunyai arti yang sangat besar dan sangat mendalam. "Mungkin titik
berangkat saya itu yang membuat saya bisa

begini hari ini," tutur Bob, yang pernah jadi sopir taksi dan nguli di
Jakarta dengan upah Rp100 per hari.

Bob, yang lulus SMA tahun 1953 itu mengkritik keras kecenderungan para
orang tua yang malas mendidik sendiri

anak-anaknya. Para orang tua itu melepaskan tanggungjawab mendidik
anak dan seenaknya membebankan tugas itu

pada sekolah. Akhirnya, sering mereka memaksakan kehendak pada
anak-anak dalam hal memilih jenis pendidikan.

Padahal, kata pengusaha gaek yang pernah ikut-ikutan temannya kuliah
di Fakultas Hukum UI ini, semua anak bebas

menentukan pilihan. Namun itulah egoisnya orang tua. Tanpa sadar
mereka sedang memperkosa pikiran anak-anak.

Bagi Bob, keteladanan sangat bermakna untuk membangun mental
seseorang. "Bukan dengan memicu dan memacu,

karena banyak orang yang tidak mau dipicu dan dipacu," tegas Bob. Ia
mengaku sangat keras dalam mendidik

anak-anaknya, tetapi juga memberi pilihan sebebas-bebasnya. Disiplin
harus ditegakkan, tapi kemandirian juga harus

ditumbuhkan. Itulah semangat Bob dalam menggerakkan para karyawan di
Kemchicks Group, yang mana mereka

dianggapnya sebagai anak-anak sendiri.

Teramat sayang jika orang hanya mengingat seorang Bob Sadino sebagai
pengusaha nyentrik, yang kemana-mana

pakai celana pendek. Makin digali, makin ketemulah sosoknya sebagai
seorang Master Kehidupan. Bahasanya

bernuansa sufistik. Ungkapan-ungkapan yang sederhana, lugas, dan
kadang provokatif namun kaya makna itu,

menjadikannya bak seorang "Guru Zen" dalam hal bisnis. "Saya ini
seperti sebuah gitar tua di atas meja. Apakah

saya bisa mengalunkan irama yang indah atau buruk, tergantung siapa
yang memetiknya," ungkap Bob saat didesak

untuk mengeluarkan seluruh `ilmunya' oleh Edy Zaqeus.

Kalau pikiran ini kita umpamakan sebuah cangkir teh, maka kita tak
bakalan pernah bisa mengenal "tehnya" Bob

Sadino, jika kita tak lebih dulu mengosongkan cangkir itu. Berikut
petikan wawancara antara Bob Sadino, sang "Guru

Zen" bisnis, dengan salah satu pengagumnya, Edy Zaqeus. Wawancara
berlangsung sepanjang perjalanan dari

rumah Bob di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sampai di kantornya di
kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Wawancara ini merupakan salah satu bab dari buku best seller berjudul
Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah!

(Gradien, 2004)

Modal sering menjadi hambatan bagi yang ingin berwirausaha. Pandangan Anda?
Rata-rata kalau orang bicara modal, langsung otaknya bilang duit.
Orang yang lebih canggih lagi, kalau bukan duit ya

benda-benda modal seperti pacul, pikulan, atau becak. Itu modal yang
bisa dilihat, dipegang, dirasakan, modal

tangible. Ada modal yang tidak bisa dilihat, dirasakan, dipegang.
Umpamanya modal keberanian, kemauan, tekad.

Saya pribadi, dari mana mulainya? Ya, dari yang tidak kelihatan tadi.

Soal ketidakberanian mengambil risiko, jika berdasarkan perhitungan
risikonya terlalu besar. Komentar Anda?
Karena saya berangkat tanpa perhitungan apa-apa, bagaimana saya mau
mengitung kalau duit saya tidak punya?

Modal saya hanya kemauan, tapi saya punya kaki punya tangan, terus
saya melangkah, saya berbuat!

Apa cukup mengandalkan keberanian ambil risiko saja?
Salah satunya iya. Kalau orang biasanya menghindari risiko, saya masuk
kategori orang yang mencari risiko, kan?

Masa bodoh akibatnya, yang saya cari itu risiko. Silahkan terjemahkan….

Pernah mengalami kegagalan dalam usaha?
Ini pertanyaan yang sangat lucu… Kegagalan itu sudah termasuk dalam
usaha. Cari risiko berarti cari kegagalan,

kan? Berusaha itu modalnya bukan duit. Duit itu nomor ke seratus kali!

Soal mental kewirausahaan masyarakat kita?
Rata-rata orang Indonesia masih berpikir untuk jadi pegawai saja.
Termasuk mereka yang sudah selesai sekolah,

sarjana-sarjana itu. Kebanyakan orang tidak mau dipicu dan dipacu
mental kewirausahaannya. Karena tidak mau, ya

pendekatannya harus beda. Ya, keteladanan saja. Kalau orang melihat
Anda berhasil, Anda hanya bisa berharap

orang lain mengikuti Anda. Itu saja!

Bukankah itu pasif?
Memangnya kita bisa maksa orang? Kamu mau nggak dipaksa? "Kamu besok
berhenti saja jadi wartawan, kamu

ikuti jejak saya, mau nggak kamu?!"

Konon dalam usaha perlu `naluri bisnis' (instinct) atau feeling. Anda sendiri?
Dari pengalaman, saya tidak mengatakan bahwa instinct atau feeling itu
faktor. Mungkin ada, Mungkin! Tapi itu kan

sesuatu yang tidak ada jaminannya? Yang orang katakan feeling bagi
saya, sebenarnya adalah karena saya sudah

melangkah 999 langkah. Maka langkah saya yang ke-1000 itu, yang
sebetulnya langkah berikutnya, itulah yang

dikatakan orang instinct atau feeling.

Kalau soal `hoki' atau keberuntungan?
Berapa persen sih orang yang bisa menyandarkan dan mengandalkan sebuah
sukses dari faktor hoki? Kenapa nggak

dilaksanakan saja, dijalankan saja? Mungkin hoki datang sejajar dengan
itu, dengan sendirinya. Kalau orang sejak

awal percaya dirinya tidak bisa berhasil, maka seumur hidupnya,
sepanjang hayatnya, dia tidak akan pernah berhasil.

Bagaimana dengan leadership dalam menghidupkan usaha?
Kalau ditanya definisinya saya nggak bisa jawab. Kalau ditanya
hasilnya, saya punya 1.600 orang anak-anak.

Mereka itu anak-anak, saya bapaknya, itu saja! Nggak pakai resep.
Mereka itu mbututi (mengikuti) saya kok. Jika

kamu belum menikah, belum punya istri, belum punya anak, maka apa pun
yang saya terangkan tentang `bapak',

kamu tidak akan mengerti. Itu pun sudah merupakan jawaban!

Kalau anak-anak tidak mampu melaksanakan apa yang Anda inginkan?
Dibentur-benturkan aja kepalanya ke tembok! Apakah saya bisa andalkan
anak saya dari pengetahuannya saja?

Pengalaman. Anak pegang sepeda, kalau jatuh itu risiko saya. Si anak
merasakan sakit. Tapi sebagai seorang bapak,

kalau anak luka, yang ngobatin luka itu siapa? Risiko si anak sakit,
luka, berdarah, teriak-teriak. Karena itu dirasakan

anak saya, saya ikut merasakan. Saya sebagai bapak harus bertanggung
jawab. Saya melaksanakan tugas saya

sebagai bapak, sama dengan semua bapak di mana pun bapak-bapak berada.
Tidak ada bedanya.
Usaha sudah besar, urusan makin banyak, sistem makin rumit. Bagaimana
mempertahankan semua ini?
Saya kan sama anak-anak, tidak sendirian? Harus dilihat saya bersama
anak-anak itu sebagai sebuah kebersamaan.

Sudah lama saya tidak mengambil keputusan. Anak-anak saya suruh
belajar naik sepeda. Terserah mau ke mana

dan bagaimana mereka naik sepeda. Kalau saya mengawasi terus, kapan
dewasanya anak-anak?

Tidak selamanya orang bisa lurus terus. Kadang meyimpang, kadang
melakukan kesalahan?
Saya buka dan bebaskan. Kalau mau melakukan penyimpangan, melakukan
kesalahan, silahkan! Bebas kok.

Terserah. Seperti anak saya yang naik sepeda, kalau dia jatuh, dia
sakit sendiri.

Kesalahan yang disengaja maupun yang tidak?
Dua-duanya boleh. Merdeka kok!

Kedengarannya kok tidak ada mekanisme reward and punishment?
Punishment-nya itu bukan dari saya. Reward-nya juga bukan dari saya.
Punishment juga karena kelakuan dia sendiri.

Memangnya tugas bapak itu harus punish and reward? Memangnya polisi?
Saya paling menghindari perkataan

punishment.

Lebih utama pengalaman atau sesuatu yang didapat dari bangku sekolah?
Saya tidak bisa ngomong karena saya nggak sekolah. Menurut istilah
Andrias (penulis buku-buku best seller: red),

saya ini orang yang belajar, tetapi orang yang tidak pernah sekolah.

Siapa guru-guru terbaik Anda?
Alam. Saya melihat anak-anak, saya lihat pohon, matahari, jalanan,
batu, sekeliling saya aja. Apa orang itu ndak bisa

belajar dari batu? Banyak orang tua yang tidak rela anaknya tidak sekolah.

Mungkin ada kekhawatiran kalau tidak sekolah nanti tidak bisa hidup?
Apakah mereka tahu dengan sekolah itu anaknya bisa hidup? Apakah nggak
sebaliknya, malah karena sekolah dia

nggak akan bisa hidup? Kalau saya jadi kamu, segera setelah jadi orang
tua, yang saya ingat adalah obrolan saya

dengan Bob Sadino. Apakah sekolah itu jaminan bahwa anak itu nanti
akan berhasil? Saya hampir pasti kalau kamu

jadi orang tua, kamu akan paksa anakmu untuk sekolah. Kalau kamu orang
tua yang percaya, bahwa dengan sekolah

anak itu bisa sukses, saya cenderung mengkategorikan kamu sebagai
orang tua yang tidak bener. Pertama, kamu

malas tidak mau mendidik anak sendiri. Kedua, kamu mengandalkan orang
lain. Kalau kamu menghendaki anakmu

melakukan setiap yang kamu inginkan, kamu orang tua yang paling egois.
Bukankah setiap anak itu bebas memilih

apa pun yang dia inginkan? Tanpa sadar kamu sedang memperkosa pikiran
anakmu. Itu menurut Bob Sadino!

Ada pemikiran, pendidikan adalah warisan terbaik bagi anak?
Kalau semua orang bilang begitu, saya yang akan bilang tidak! Kamu
belum menarik garis sekolah itu apa, belajar itu

apa. Alangkah prihatinnya saya. Kasihan sekali pada orang tua yang
mendidik anaknya, dengan menyuruh si anak

masuk di sebuah ruangan yang dibatasi oleh empat dinding. Bukankah
dunia ini lebar? Warisan disempitkan menjadi

satu; sekolah. Yang lain-lain nggak dianggap warisan, alangkah
sempitnya pemikiran itu. Anak-anak saya ya saya

sekolahkan. Tapi setelah itu saya bebaskan, mau apa terserah. Tidak
pernah saya paksakan. Dan walau anak-anak

saya selesai sekolah, ternyata mereka juga ndak senang sekolah.

Apakah ide-ide semacam ini bagus untuk orang-orang di bangku sekolah?
Saya selalu mengatakan, bagi mereka yang memaksakan kepingin sukses,
jawaban saya sangat sederhana dan

sangat tidak populer. Kalau kamu mau sukses, besok kamu berhenti
sekolah. Dan jelas tidak ada satu orang pun

yang mau nurut kata-kata saya. Padahal dia sedang mencari dan mengejar sukses.
Mungkin orang merasa tidak aman jika meninggalkan sekolah dan tidak
punya ijazah?
Kamu tahu berapa ribu sarjana yang nganggur. Apakah itu aman buat
mereka? Kemarin saya ke IPB sedang

mewisuda 1.200 sarjana. Dari 1.200 sarjana yang kemarin diwisuda itu,
berapa yang dapat pekerjaan, saya tidak

tahu. Yang saya tahu hanya beberapa gelintir saja. Artinya kamu
menyekolahkan anak untuk mencapai suatu tujuan,

yaitu masuk pada suatu tempat yang tidak aman. Itu jelas sebetulnya.
Tapi mengapa paradigmanya tidak pernah mau

digeser-geser? Karena itu budaya dari nenek moyang. Orang tua maunya
gampang. Sebetulnya sekolah itu hanya

wakil saja dari orang tua. Kalau orang tua yang prihatin, ya dia didik
sendiri anaknya.

Waktu kecil pernah punya cita-cita?
Nggak punya cita-cita. Kamu bertanya, `benar nggak?' berarti kamu
tidak percaya sama saya, kan? Karena aneh,

kan? Orang selalu tidak percaya jika saya ngomong yang sejujur-jujurnya.

Bagi Anda apa makna sukses itu?
Bilamana apa yang saya harapkan, itu yang saya dapatkan, itulah
sukses. Jadi kalau saya mengharapkan besok saya

bisa makan, dan besok saya dapat makan, saya sudah sukses. Buat saya
nasi sepiring itu sudah baik. Orang mencari

macam-macam itu kan karena tidak pernah menghargai nasi sepiring buat
dimakan besok? Saya menghargai itu

karena saya pernah lapar. Nasi sepiring itu punya arti besar, segunung
sudah. Sesederhana itu! Nasi doang itu bagi

saya sudah lebih baik daripada saya tidak makan. Mungkin titik
berangkat saya itu yang membuat saya bisa begini

hari ini. Orang yang tidak bisa menghargai sepiring nasi doang, karena
mereka belum pernah lapar, kan? Mungkin

perbedaan yang paling mencolok antara saya dengan begitu banyak orang
adalah itu. Makan dianggap taken for

granted, kewajaran, karena orang itu tidak punya masalah dengan makan.
Tapi orang-orang di pinggir jalan itu, kamu

tanya mereka….

Ada saat-saat khusus untuk meditasi atau refleksi diri?
Walah… dengan saya bersosialisasi dan berkomunikasi dengan anak-anak,
itu sebuah refleksi spontan, kan? Apakah

itu sikap saya, tindakan saya, atau pembicaraan saya, saya mendapatkan
refleksinya. Jadi saya tidak perlu lagi

merenung. Saya bicara dengan Anda, saya mendapatkan refleksi dari
Anda. Refleksinya…oh, segala pertanyaan

yang saya jawab anak ini ternyata bingung sendiri ha..ha..ha..

Setelah seperti sekarang ini, ke depan apalagi yang Anda harapkan?
Dari awal saya bilang, besok itu saya mengharapkan bisa makan. Dan
keesokan harinya saya bisa makan, dan saya

puas. Apalagi yang saya harapkan? Karena itu makna sukses, kan? Sudah
cukup. Nah, pulang nanti kamu dipaksa

merenung! Bisa nggak menerjemahkan sang sufi ini ha..ha..ha…Kamu
mengukur saya itu sekarang, kamu melihat

saya serba ada. Kamu lupa sepiring nasi buat saya itu ada, itulah
titik ada pada waktu saya punya sepiring nasi

besok. Itu titik ada saya. Kalau saya melihat titik pada waktu besok
saya mau makan saya dapat nasi, itu sudah titik

bagi saya.*
| Back |